17 November 2010

PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adanya persaingan hidup yang sangat kompetitif dapat membawa manusia mudah stres, frustasi. Akibatnya menambah jumlah masyarakat yang sakit jiwa. Pola hidup materialisme dan hedonisme kini kian digemari dan pada saat mereka tidak lagi mampu menghadapi persoalan hidupnya, mereka cenderung ambil jalan pintas seperti bunuh diri. Semua masalah ini akarnya adalah karena jiwa manusia itu telah terpecah belah. Mereka perlu diintegrasikan kembali melalui ajaran akhlak tasawuf.
Masyarakat modern dewasa ini mempunyai banyak problematika dari segi ekonomi, teknologi, sosial dan budaya. Dengan banyaknya problematika ini masyarakat modern dituntut untuk tetap exist dalam kehidupan sehari-hari, disinilah peran akhlak tasawuf dalam kehidupan spiritual manusia yang mempengaruhi kehidupan non spiritual mereka. Selengkapnya akan kita bahas lebih lanjut dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang disebut dengan masyarakat modern ?
2. Apa problematika masyarakat modern ?
3. Bagaimana peran akhlak tasawuf dalam spiritual manusia ?


C. Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi masyarakat modern.
2. Dapat menjelaskan problematika masyarakat modern.
3. Dapat menjelaskan peran akhlak tasawuf dalam kehidupan spiritual manusia.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Masyarakat Modern
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Dalam kamus umum bahasa Indonesia masyarakat sebagai pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Dengan demikian masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
Ciri-ciri masyarakat modern, yaitu :
1. Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, dari pada pendapat emosi. Sebelum meakukan pekerjaan selalu dipertimbangkan terlebih dahulu untuk ruginya, dan pekerjaan tersebut secara logika dipandang menguntungkan.
2. Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat, tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh.
3. Menghargai waktu, yaitu selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
4. Bersikap terbuka, yakni mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan dari manapun datangnya.
5. Berpikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.
Masyarakat terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Masyarakat pertanian.
Masyarakat pertanian ini mendasarkan ekonominya pada tanah atau sumber alam. Mereka yang memiliki sawah, ladang, kebun, ternak dan lainnya di pedesaan dianggap sebagai orang yang kaya raya. Teknologi yang mereka gunakan adalah teknologi kecil seperti pompa penyemprot hama, racun tikus, dan sebagainya. Informasi yang mereka gunakan adalah media tradisional, dari mulut kemulut, bersifat lokal, dan informasi berpusat pada salah seorang yang dianggap tokoh. Dari segi lingkungan sosial mereka menganut sistem keluarga batih, keluarga yang didasarkan pada ikatan darah dan keturunan serta menetap pada satu lokasi tertentu, dan bertempat disuatu wilayah ynag tidak berpindah-pindah. Dari segi kejiwaan mereka selalu komitmen dengan lingkungan dan suasana masa lalu, banyak menggunakan kekuatan yang bersifat irrasional, seperti penanganan masalah dengan cara pergi kedukun, ahli nujum, orang yang dianggap sakti dan sebagainya.
2. Masyarakat industri
Masyarakat industri ini berbeda dengan masyarakat pertanian. Modal dasar usaha masyarakat ini bukan lagi tanah, tetapi peralatan produksi, mesin-mesin pengolah bahan mentah menjadi barang atau makanan yang siap dikonsumsi, teknologi yang mereka gunakan adalah teknologi tinggi yang hemat tenaga kerja, berskala besar dan bekerja secara efektif dan efisien. Informasi yang mereka gunakan bukan lagi secara dari mulut kemulut atau lisan, tetapi sudah menggunakan media cetak atau tulisan yang dapat disimpan oleh siapa saja. Informasi sudah mulai tersebar dan tidak hanya terkonsentrasi pada seorang saja sebagaimana terlihat pada masyarakat pertanian. Informasi yang mereka gunakan juga bersifat rasional dan terus berkembangan, yakni tidak hanya beredar dilingkungannya saja tetapi juga pada lingkungan yang lebih besar dan luas jangkauannya. Keluarga yang mereka anut adalah keluarga inti, yakni orang tua, suami istri, dan anak, keluarga yang hanya mengandalkan pada peran dan fungsi sosial ekonominya saja, dan tidak lagi menganut sistem keluarga besar sebagaimana terlihat pada masyarakat golongan pertama. Secara psikologis atau kejiwaan manusia pada era industri ini yang diperlukan adalah manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, berpikir untuk hidup secara makmur dalam bidang materi, dan memandang bahwa segala sesuatu hanya terjadi jika mengikuti hukum alam.
3. Masyarakat informasi
Dalam masyarakat informasi ini ada yang menyebut abad elektronik, informasi atau pasca industri. Ramalan tentang era informasi sebagian bersifat pasti, sebagian lagi bersifat spekulasi. Dari segi teknologi,ekonomi, dan informasi lebih bersifat pasti. Yang paling menentukan dalam masyarakat informasi adalah orang-orang yang paling banyak mamiliki informasi.
Pada masyarakat informasi dalam bidang teknologi, mereka menggunakan teknologi elektronika. Pada era ini, lewat komunikasi satelit dan komputer orang memasuki lingkungan informasi dunia. Sementera itu, media massa yang semula satu arah, berubah menjadi media interaktif.
Hal yang demikian itu, pada akhirnya berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era informasi yang sanggup survive (bertahan) hanyalah mereka yang berorientasi ke depan yang bijak (yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan).

B. Problematika Masyarakat Modern
Dalam kaitan ini, terdapat tiga keadaan dalam mensikapi revolusi industri, yaitu kelompok yang optimis, pesimis dan pertengahan antara keduanya. Bagi kelompok yang optimis kehadiran revolusi teknologi justru menguntungkan. Pada lingkungan-lingkungan yang terpelajar, yaitu di dalam jurnal penelitian dan buku-buku akademis, disebutkan bahwa revolusi informasi akan menyebabkan timbulnya desentralisasi.
Sementara itu bagi kelompok yang pesimis memandang kemajuan di bidang teknologi akan memberikan dampak yang negatif, karena hanya memberikan peluang dan kesempatan kepada orang-orang yang dapat bersaing saja.
Teknologi juga akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang mengkhawatirkan. Dan juga akan membuka peluang bagi orang untuk lebih meningkatkan aktivitas jahatnya dalam bentuk yang lebih canggih.
Kemajuan dalam bidang teknologi akan memberi pengaruh sebagai berikut:
a. Semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi memberi nilai tambah, tapi pada sisi lain dapat mengurangi.
b. Nilai-nilai manusia yang tradisional.
c. Semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah dari pada pemecahannya.
d. Efek negatif teknologi tidak dapat dipisahkan dari efek positifnya.
e. Semua penemuan teknologi mempunyai efek yang tidak terduga.
Kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern sebagai berikut:
1. Desintegrasi Ilmu Pengetahuan
Kehidupan modern ditandai dengan adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki caranya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Keadaan berbagai ilmu pengetahuan yang saling bertolak belakang antara satu disiplin ilmu atau filsafat dan lainnya terdapat kerenggangan, bahkan tidak tahu-menahu. Hal ini, merupakan pangkal terjadinya kekeringan spiritual, akibat pintu masuknya tersumbat. Dengan menyempitnya pintu masuk bagi persepsi dan konsepsi spiritual, maka manusia modern semakin berada pada garis tepi, sehingga tidak lagi memiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber ilahi.
2. Kepribadian yang Terpecah
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual, maka manusia menjadi pribadi yang terpecah. Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu yang excaxt dan kering. Akibatnya, hilang proses kekayaan rohaniyah, karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif dan ilmu sosial.
Jika proses keilmuan yang berkembang itu tibak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan berlangsungnya proses tersebut, semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi derajat kehidupan manusia menjadi hilang, sehingga bukan hanya kehidupan kita yang mengalami kemerosota, tetapi juga kecerdasan dan moral.
3. Penyalahgunaan Iptek
Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual, maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan suatu bangsa atau bangsa lain. Kemampuan di bidang rekayasa genetika diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia. Kecanggihan di bidang teknologi komunikasi dan lainnya telah digunakan untuk menggalang kekuatan yang menghancurkan moral umat.
4. Pendangkalan Iman
Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya. Mereka tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan informasi yang dibawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap sebagai tidak ilmiah dan kampungan.
5. Pola Hubungan Materialistik
Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material. Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diiukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya, menempatkan pertimbangan material di atas pertimbangan akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.
6. Menghalalkan Segala Cara
Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik, maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Jika hal ini terjadi maka terjadilah kerusakan akhlak dalam segala bidang, baik ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.
7. Stres dan Frustasi
Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus menyerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Mereka terus bekerja dan bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Apalagi jika usaha dan proyeknya gagal, maka dengan mudah kehilangan pegangan, karena memang tidak lagi memiliki pegangan yang kokoh yang berasal dari Tuhan. Akibatnya jika terkena problem yang tidak dapat dipecahkan, maka akan stres dan frustasi yang jika hal ini terus-menerus berlanjut akan menjadi gila.
8. Kehilangan Harga Diri dan Masa Depan
Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk menuruti hawa nafsunya. Namun pada suatu saat sudah tua renta, fisiknya sudah tidak berdaya. Tenaganya sudah tidak mendukung, dan berbagai kegiatan sudah tidak dapat dilakukan. Fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak berguna lagi, karena fisik dan mentalnya sudak tidak memerlukan lagi. Manusia yang seperti ini merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.

C. Peran Akhlak Tasawuf Dalam Masyarakat Modern
Akibat dari terlalu mengagungkan rasio, manusia modern mudah dihinggapi penyakit kehampaan spiritual. Kemajuan yang pesat dalam lapangan ilmu pengetahuan dan filsafat rasionalisme abad 18 dirasakan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai transenden, satu kebutuhan vital yang hanya bisa digali dari sumber wahyu ilahi.
Akibatnya, manusia modern yang telah menciptakan ilusi memandang dunia ini sebagai realitas kehidupan yang sebenarnya. Karena itu, manusia modern memahami hidup di dunia ini merupakan suatu kehidupan yang final, setelah itu tidak ada lagi. Sementara manusia tradisional berpandangan sebaliknya, justru kehidupan dunia ini bersifat sementara dan itu ada kehidupan lain yang merupakan kehidupan sesungguhnya.
Alternative yang diberikan terhadap krisis modern di atas, tampaknya mempunyai signifikasi yang kuat terhadap realitas kejiwaan manusia modern sekarang. Manusia modern membutuhkan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya, agar manusia Barat modern kembali kepada agama yang salah satu fungsinya memang untuk membimbing jalan hidup manusia agar lebih baik dan selamat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Setelah melihat uraian pemikiran pembaharuan tentang tasawuf secara ke dalam di atas, bagaimana sekarang tasawuf dapat memberi sumbangan alternative terhadap kebutuhan spiritual manusia modern? terhadap pernyataan ini menunjukkan bahwa hampir seluruh ajaran Islam tentang hal-hal yang bersifat metafisis dan gnostis (ma’rifah) murni, terutama yang terdapat dalam bidang tasawuf, dapat memberikan jawaban-jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan intelektual dewasa ini. Dan dalam bidang tasawuf tersebut kehadiran dimensi spiritual tampak dan hal itu kemudian dapat memadamkan kehausan manusia dalam mencari Tuhan.
Ajaran tasawuf mempunyai tempat bagi masyarakat Barat modern karena mereka mulai merasakan kekeringan batin dan kini upaya pemenuhannya kian mendesak.
Tasawuf perlu disosialisasikan pada mereka, setidaknya ada tiga tujuan utama. Pertama, turut serta berbagi peran dalam penyelamatan kemanusiaan dari kondisi kebingungan sebagai akibat hilangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek Islam, baik terhadap masyarakat Islam yang mulai melupakan maupun non-Islam. Khususnya terhadap manusia Barat modern. Ketiga, untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek Islam, yakni tasawuf, adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak lagi berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam. Dalam hal ini “tariqah” atau “jalan rohani” yang biasa dikenal sebagai tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi ke dalam dan “kerahasiaan” dalam Islam, sebagaimana syari’at berakar pada Qur’an dan Sunnah. Ia menjadi jiwa risalat Islam, seperti hati yang ada pada tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar. Betapapun ia tetap merupakan sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam Islam.
Kesulitan mencapai titik pusat ini, karena manusia modern hidup terlalu mengandalkan kekuatan nalar dan bergelimang dengan melimpahnya materi, sehingga ‘mata hatinya’-nya telah tertutup.
Dalam konteks ini secara psikologis, tasawuf amat berjasa bagi penyembuhan gangguan jiwa sebagaimana yang banyak diderita oleh masyarakat pasca-industri. Hal ini karena yang paling tinggi sajalah yang dapat memahami yang paling rendah : aspek spiritual sajalah yang mengetahui masalah psikis dan menghalangikan kegelapan-kegelapan jiwa.
Adapun mengenai tasawuf dapat mempengaruhi Barat pada tiga tataran : Pertama, ada kemungkingan memperaktekkan tasawuf secara aktif. Kedua, tasawuf mungkin sekali mempengaruhi Barat dengan cara menyajikan Islam dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga orang dapat menemukan praktek-praktek tasawuf yang benar. Ketiga, dengan memfungsikan tasawuf sebagai alat bantu untuk mengingatkan dan membangunkan orang Barat dari tidurnya.
D. Tasawuf dan Integrasi Kehidupan
Yang dicari manusia dalam kehidupan ini ialah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tapi bagaimana kedua macam kebahagiaan itu dapat dicapai tanpa harus mematikan yang satu untuk mendapatkan yang lain tapi dapat dicapai secara selaras dan secara bersama, dalam menghadapi kenyataan ini. Manusia terbagi menjadi tiga: (1) sebagai manusia mengorbankan kehidupan duniawinya mengejar kehidupan ukhrawi; (2) sebagian yang lain hanya mengejar kehidupan duniawi dengan mengorbankan kehidupan ukhrawi; dan (3) kelompok yang mampu mendapatkan kedua-duanya.
Sesungguhnya keseluruhan kehidupan sufisme atau cara-cara spiritual adalah untuk membebaskan manusia dari penjara berbagai masalah, untuk menyembuhkan mereka dari kemunafikan dan menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh karena dengan menjadi manusia yang utuh sajalah manusia dapat diliputi oleh kesucian. Manusia bersaksi atas adanya Tuhan yang satu tetapi sebenarnya ia masih hidup dan bertingkah laku seperti layaknya adanya Tuhan. Dengan demikian mereka menderita suatu dosa dari kemusyrikan.
Praktek tasawuf yang benar tidak bisa dipisahkan dari kerangka obyektif wahyu atau ajaran agama yang menjadi sumbernya. Karena itu, orang tidak bisa memperaktekkan agama Budha atau agama lainnya. Misalnya, dalam konteks syari’ah atau sebaliknya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, pemikiran tradisional dalam persoalah tasawuf, sebagai berikut :
1. Tasawuf dapat dipraktekkan hanya dalam kerangka syari’ah.
2. Seorang penganut tasawuf modern tidak harus lari dari kehidupan duniawi, tapi justru harus terlibat aktif dalam masyarakat.



















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Masyarakat modern adalah : masyarakat yang artinya : himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu. Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Dengan demikian masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.
2. Terdapat problematika masyarakat modern diantaranya : yang pertama dari segi ilmu pengetahuan, dalam masyarakat modern ilmu pengetahuan mempunyai spesialisasi tersendiri, sehingga tidak lagi memiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber ilahi. Yang kedua adalah kepribadian mereka terpecah Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual. Yang ketiga adalah Penyalahgunaan Iptek, yang keempat adalah Pendangkalan Iman Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan, yang kelima Pola Hubungan Materialistik adalah , yang keenam adalah menghalalkan segala cara, yang ketujuh adalah sters dan frustasi, yang terakhir adalah kehilangan harga diri dan masa depan.
3. Ajaran tasawuf mempunyai tempat bagi masyarakat Barat modern karena mereka mulai merasakan kekeringan batin dan kini upaya pemenuhannya kian mendesak. Tasawuf amat berjasa bagi penyembuhan gangguan jiwa sebagaimana yang banyak diderita oleh masyarakat pasca-industri. Hal ini karena yang paling tinggi sajalah yang dapat memahami yang paling rendah : aspek spiritual sajalah yang mengetahui masalah psikis dan menghalangikan kegelapan-kegelapan jiwa.
4. Sesungguhnya keseluruhan kehidupan sufisme atau cara-cara spiritual adalah untuk membebaskan manusia dari penjara berbagai masalah. Seorang penganut tasawuf modern tidak harus lari dari kehidupan duniawi, tapi justru harus terlibat aktif dalam masyarakat.



























DAFTAR PUSTAKA
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: balai pustaka, 1991), Cet. XII.
Deliar, Noer, Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1987)
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf (Jakarta :Rajawali press, 2006)
Komaruddin Hidayat, Upaya Pembebasan Manusia, (Jakarta: Grafiti Pers, 1987), cet.II.
Drs. H. A. Musthofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2005 ) Dr. Rosihan Anwar, M. Ag, Akhlak Tasawuf, (Bandung :CV Pustaka Setia, 2009)

4 komentar:

  1. mhon izin tuk copy materinya ya,,,pmbahasannya sama persis dengan buku yang mau diketik...mksi materi ini sudah sngat membantu...

    BalasHapus
  2. maaf nih... sebaiknya rumusan masalahnya arus diperbanyak lagi.... :/
    okey :) isinya tetap bagus kox (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. di tambah sendiri aja bro, soalx kalau rumusan masalahnya d tambah pembahasanx jg hrs d tambah bro

      Hapus

Pastikan Komentarmu .......

Membantu untuk merubah dunia !?!?!?!?!?

Copyright 2011
Hayyan Ahmad

Powered by
Free Blogger Templates
SELAMAT DATANG DI HAYYAN-AHMAD.BLOGSPOT.COM | DAPATKAN UPDATE MAKALAH TERBARUKU DAN CATATAN HIDUPKU | UNTUK KENYAMANAN MEMBACA GUNAKAN SELALU INTERNET ACESS 3Mbps | APA BILA INGIN MENG-COPY INFORMASI/ARTIKEL DI BLOG INI | JANGAN LUPA TINGGALKAN JUGA COMMENT ANDA | HATUR NUWUN eh salah MATUR NUWON | ASSALAMUALAIKUM